Yang Terpenting

Ribuan mahasiswa keluar dari auditorium itu. Ada yang langsung menuju jalan raya untuk menunggu angkot lewat. Ada yang mendekati abang penjual cimol untuk melaksanakan kegiatan ekonomi. Ada pula yang bersama pasangannya menuju tangga yang sepi. Setiap orang memiliki tujuannya masing-masing. Tiap tujuan dari orang-orang ini bisa jadi beda. Tetapi tetap ada kemungkinan untuk sama.


Suatu hari saya menghubungi seorang calon pembicara untuk mengisi suatu seminar. Dalam proses mendekati pembicara ini, sangat susah sekali. Saya seperti tidak dianggap.

Wait.

Memangnya saya siapa?

Saya pun menyadari. Pada titik ini saya sangat membutuhkan orang tersebut lebih daripada orang tersebut membutuhkan saya. Kembali lagi, memangnya saya siapa?


Suatu hari, adik tingkat di SMA saya menghubungi saya untuk menanyakan tentang cara masuk ke universitas dan bagaimana kehidupan saya di universitas. Saya tidak sempat untuk membalasnya. Pada saat itu saya sedang hectic mengerjakan hal yang lain.

Wait.

Bisa jadi, disana, adik kelas saya berfikir

Memangnya dia siapa?


Maka ini sama sekali bukan masalah kesibukan. Ini lebih pada hal “ada di urutan keberapa anda dalam daftar prioritas orang tsb”. Yang-terpenting bagi kita mungkin adalah yang-tidak-terpenting bagi yang lain. Yang-terpenting bagi yang lain mungkin adalah yang-tidak-terpenting bagi kita.

Semoga kita saling memahami kepentingan satu sama lain.

Yogyakarta, 13 Juni 2016

Tidak Menyerah = Probabilitas Sukses Naik

Alkisah terdapat seorang anak muda yang ingin mengambil permen stroberi dalam sebuah toples. Sayangnya, dalam toples itu berisi tidak hanya permen stroberi serta bungkus toples tersebut hitam sehingga anak muda tidak dapat melihat. Toples itu berisi 100 permen dan jumlah permen stroberi hanya satu. Permen yang lain adalah permen melon yang berjumlah 99 permen. Maka, probabilitas anak muda tersebut mendapat permen stroberi dalam satu kali percobaan adalah 1/100. Sangat kecil. Anak muda tersebut akhirnya mencoba mengambil satu buah permen. Dalam percobaan pertama permen yang dia dapat adalah permen melon. Dia gagal.

Tetapi

Baca lebih lanjut

Ada Orang Tanya

Cara mengajar dosen feb gimana kak? Feb dosennya killer gak kak?

Dosen disini sangat kuat dalam hal teori. Berbeda dengan SBM ITB yang sangat kuat di praktik nya. Tetapi tentu tiap dosen memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Aku anggap definisi killer disini adalah disiplin. Banyak dosen feb yang killer. Dan atas ke-killer-an nya banyak mahasiswa yang paham betul akan materi yang diajarkan. Dari kulit terluar sampai kedalam. Baca lebih lanjut

Maaf

KOMPAS.com / Wijaya Kusuma
KOMPAS.com / Wijaya Kusuma

“Never apologize, mister, it’s a sign of weakness.” – John Wayne

Saya bersyukur dengan naiknya tuntutan mahasiswa ke tangga selanjutnya. Sekarang tinggal menunggu dan menjaga komunikasi dengan Mereka, barangkali Mereka lupa.

Saya juga bersyukur diawal tahun saya berada di kampus ini, dapat merasakan atmosfer aksi seperti yang terjadi di Rektorat tadi. Bukan apa-apa, saya adalah mahasiswa FEB UGM yang terkenal…ya begitulah. Saya sama sekali tidak mempersalahkan ke-ada-an saya di FEB UGM. Bahkan dengan ada didalamnya, pandangan saya akan hidup ini kian berwarna. Baca lebih lanjut

Catatan Perjalanan SBMPTN

“Biar kau tahu, Kal, orang seperti kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu!”

“Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati…”

“Mungkin setelah tamat SMA kita hanya akan mendulang timah atau menjadi kuli, tapi disini Kal, di sekolah ini, kita tak akan pernah mendahului nasib kita!”

Untuk semua teman yang sedang memantaskan diri masuk ke dalam lingkungan Pendidikan Tinggi,

Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya. Baca lebih lanjut