Yang Terpenting

Ribuan mahasiswa keluar dari auditorium itu. Ada yang langsung menuju jalan raya untuk menunggu angkot lewat. Ada yang mendekati abang penjual cimol untuk melaksanakan kegiatan ekonomi. Ada pula yang bersama pasangannya menuju tangga yang sepi. Setiap orang memiliki tujuannya masing-masing. Tiap tujuan dari orang-orang ini bisa jadi beda. Tetapi tetap ada kemungkinan untuk sama.


Suatu hari saya menghubungi seorang calon pembicara untuk mengisi suatu seminar. Dalam proses mendekati pembicara ini, sangat susah sekali. Saya seperti tidak dianggap.

Wait.

Memangnya saya siapa?

Saya pun menyadari. Pada titik ini saya sangat membutuhkan orang tersebut lebih daripada orang tersebut membutuhkan saya. Kembali lagi, memangnya saya siapa?


Suatu hari, adik tingkat di SMA saya menghubungi saya untuk menanyakan tentang cara masuk ke universitas dan bagaimana kehidupan saya di universitas. Saya tidak sempat untuk membalasnya. Pada saat itu saya sedang hectic mengerjakan hal yang lain.

Wait.

Bisa jadi, disana, adik kelas saya berfikir

Memangnya dia siapa?


Maka ini sama sekali bukan masalah kesibukan. Ini lebih pada hal “ada di urutan keberapa anda dalam daftar prioritas orang tsb”. Yang-terpenting bagi kita mungkin adalah yang-tidak-terpenting bagi yang lain. Yang-terpenting bagi yang lain mungkin adalah yang-tidak-terpenting bagi kita.

Semoga kita saling memahami kepentingan satu sama lain.

Yogyakarta, 13 Juni 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s