Generasi Instan, Tolong Kerja Keras!

mountain_by_0bo-d335nwr

Sejak memasuki tahun 2016, Indonesia resmi menjadi salah satu negara yang tergabung dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Banyak tantangan yang harus dihadapi oleh Indonesia, baik dari internal maupun eksternal. Beberapa diantaranya seperti rendahnya pemahaman masyarakat mengenai MEA, tingkat pembangunan daerah yang masih sangat bervariasi, dan semakin besarnya defisit neraca perdagangan Indonesia (PKRB, 2014). Selain itu, MEA juga akan berdampak positif apabila masyarakat Indonesia siap. Seperti semakin meningkatnya kesempatan kerja bagi para pencari kerja dan semakin berkembangnya potensi pasar UMKM di kawasan ASEAN.

Dibalik bergabungnya Indonesia ke MEA, Indonesia memiliki potensi jumlah penduduk produktif yang banyak (bonus demografi). Bertambahnya jumlah penduduk usia produktif akan menurunkan rasio ketergantungan. Rasio ketergantungan merupakan perbandingan antara bukan angkatan kerja dengan angkatan kerja. Semakin rendahnya rasio ketergantungan menunjukkan semakin rendahnya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi (Statistik, n.d.). Apabila bonus demografi ini dapat dimanfaatkan dengan baik, yaitu dengan meningkatkan social capital melalui pendidikan, maka produktivitas Indonesia akan meningkat secara drastis (UI, 2015). Adanya MEA dan bonus demografi dapat kita optimalkan dengan satu langkah fundamental, yaitu meningkatkan social capital Indonesia. Sekali dayung dua pulau terlampaui.

Pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mampu mengembangkan potensi yang ada didalam dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian yang baik,  pengendalian diri, berakhlak mulia, kecerdasan,dan keterampilan yang diperlukan oleh dirinya dan masyarakat (SISDIKNAS, 2003). Lebih jauh lagi, apabila melihat tantangan yang muncul seperti MEA dan bonus demografi maka dibutuhkan suatu framework khusus yang perlu dimuat pada pendidikan, yaitu leadership dan entrepreneur.

Indonesia Mendapat Bonus Demografi, Siapa Mereka?

Bonus demografi yang dialami oleh Indonesia ini memiliki sisi lain yang unik. Dalam dunia perusahaan, khususnya bagian sumber daya manusia, dikenal istilah baby boomers, gen X, dan gen Y. Baby boomers merupakan generasi yang lahir pada tahun 1946 – 1964. Generasi ini berkembang di tengah masa-masa yang sulit setelah Perang Dunia II. Mereka mendapat asuhan dari orang tua mereka untuk bekerja keras menjadi manusia karir yang sukses. Mereka diasuh untuk menyukai jaminan hidup. Orientasi hidup generasi baby boomers adalah lulus sarjana lalu bekerja dengan nyaman. Menjadi orang rata-rata. Ini karena generasi sebelum mereka merasakan betapa pahitnya Perang Dunia I dan II, serta krisis yang terjadi sesudah perang.

Generasi X (Gen X) lahir tahun 1965 – 1979. Generasi ini tidak jauh berbeda dengan generasi sebelumnya (yaitu baby boomers), merasakan bagaimana dunia berjalan tidak aman. Pada tahun-tahun tersebut terjadi Perang Dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet. Banyak terjadi proxy war di beberapa tempat, seperti Korea dan Vietnam. Di Indonesia, pada tahun tersebut, dipimpin oleh rezim otoritarian yang melumpuhkan demokrasi. Setiap orang takut untuk menyampaikan pendapatnya. Orientasi hidup Gen X, khususnya Indonesia, menjadi warga negara yang mendapat penghasilan tetap yang tinggi serta memilih diam dengan segala kondisi politik yang terjadi.

Generasi Y (Gen Y) lahir tahun 1980 – 2000. Pada tahun-tahun tersebut kondisi politik dunia mulai stabil. Hal ini ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991. Dalam dunia teknologi, kemajuan internet sangat pesat. Ditandai dengan berdirinya Google Inc. pada tahun 1998. Pada tahun yang sama, Indonesia melaksanakan agenda reformasi. Sehingga Gen Y memiliki ciri khas seperti cerdas teknologi, menghargai perbedaan, kurang fondasi literasi dasar dan memiliki jangka perhatian yang pendek (Maretha, 2014).

Di Indonesia sendiri, terdapat lebih dari 80 juta Gen Y pada tahun 2010 dan akan meningkat menjadi 90 juta pada tahun 2030 (Maretha, 2014). Dengan kata lain, Gen Y merupakan bonus demografi yang Indonesia miliki. Gen Y memiliki banyak keunggulan seperti kreativitas dan motivasi yang besar. Tetapi, dibalik beberapa keunggulan tersebut, terdapat beberapa kekurangan yang berbahaya.

Inflasi Diri

Banyak sarana yang dapat digunakan untuk meraih motivasi ataupun inspirasi. Gen Y merupakan generasi yang banyak diserang oleh motivasi. Dalam Google’s N-Gram Viewer, akan dijumpai diagram berikut saat mencari kalimat “a fulfilling career”

(Sumber: waitbutwhy.com)

Berbanding terbalik dengan kata kunci “a secure career

Disini terlihat pergeseran pola pikir dalam mencari sebuah pekerjaan. Apabila dahulu orang mencari pekerjaan yang mapan (secure career), saat ini banyak orang yang mengerjakan pekerjaan yang ia sukai (follow youpassion). Lalu, apa salahnya dengan generasi yang mengikuti hasratnya untuk berkarya? Terdapat beberapa hal yang menjadi masalah. Gen Y memiliki ekspektasi yang tidak realistis dan mengalami inflasi diri. Tidak realistis dalam hal ini karena Gen Y memiliki kecenderungan untuk menyukai hal yang instan. Hal yang instan berarti meniadakan beberapa proses. Dan untuk menjadi seperti apa yang diharapkan oleh Gen Y membutuhkan proses yang cukup lama.

Steve Jobs, dalam Stanford Commencement, memberi pesan agar teruslah mencari pekerjaan yang menjadi passion masing-masing. Tentu, Steve Jobs mencintai pekerjaannya di Apple, tetapi dalam biografinya tertulis bahwa Steve Jobs memiliki passion lain seperti filsafat dan mistisisme timur (Newport, 2012). Sedangkan, inflasi diri merupakan cara pandang seseorang terhadap dirinya yang menganggap bahwa dirinya dapat melakukan hal-hal luar biasa beberapa tahun kedepan. Padahal, usaha yang dia lakukan masih sangat sedikit saat ini (Harvey, 2010). Apabila dibandingkan dengan problem Gen Y yang lain, inflasi diri merupakan hal yang paling berbahaya. Karena, apabila kenyataan tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan, sedang usaha tambahan untuk menggapai harapan mereka belum ada, maka Gen Y bisa depresi.

Kerja Keras: Leadership dan Entrepreneur

Elon Musk, dalam pidatonya di USC Marshall Undergraduate, mengatakan “Hard work every waking hour.” Etika bekerja seperti ini yang dibutuhkan oleh tiap Gen Y. Slogan “Follow your passion” merupakan hal yang masih sangat abstrak. Follow, atau dalam Bahasa Indonesia berarti mengikuti, mengandung konsekuensi bahwa seseorang harus menemukan hasratnya (passion) terlebih dahulu. Padahal proses menemukan hasrat ini butuh waktu yang sangat lama. Berbanding terbalik dengan salah satu kebiasaan Gen Y yang serba instan (Newport, 2012).

Begitu banyak definisi dari leadership. Tetapi dari semua definisi yang ada, memiliki beberapa kesamaan, pemimpin harus menginspirasi. Inspirasi merupakan entitas yang membuat orang lain melakukan hal yang sama dengan apa yang pemimpin kerjakan. Inspirasi merupakan kekuatan untuk melakukan perubahan yang besar. Sedangkan, entrepreneur merupakan seseorang yang berusaha menyelesaikan suatu permasalahan dan mengambil resiko yang ada dalam proses penyelesaiannya.

Di lain sisi, entrepreneur merupakan salah satu profesi yang menjadi banyak minat Gen Y saat ini. Minat Gen Y ini sangat hebat. UKM dan start-up, yang merupakan suatu bentuk pengejawantahan dari entrepreneurship, merupakan salah satu fondasi penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tetapi, apabila tidak dilengkapi dengan kerja keras dan work ethics yang paripurna, maka akan tidak sesuai dengan apa yang Gen Y harapkan.

References

Harvey, P. (2010, Mei 17). As College Graduates Hit The Workforce, So Do More Entitlement-Minded Workers. Retrieved from University of New Hampshire: http://www.unh.edu/news/cj_nr/2010/may/lw17gen-y.cfm

Maretha, I. (2014, November 24). Mampukah Gen-X Memimpin Karyawan Gen-Y? Retrieved from /www.markplusinstitute.com: http://www.markplusinstitute.com/who_we_are/detail_article/14

Newport, C. (2012, September 18). Solving Gen Y’s Passion Problem. Retrieved from Harvard Business Review: https://hbr.org/2012/09/solving-gen-ys-passion-problem

PKRB, R. K. (2014, December). Analisa Daya Saing dan Produktivitas Indonesia Menghadapi MEA. pp. 1-2.

SISDIKNAS, U. (2003). UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003. UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003.

Statistik, B. P. (n.d.). Rasio Ketergantungan. Retrieved from Sistem Informasi Rujukan Statistik Badan Pusat Statistik: https://sirusa.bps.go.id/index.php?r=indikator/view&id=95

UI, D. K. (2015). Analisis Bonus Demografi Sebagai Kesempatan Memacu Perpercepatan Industri di Indonesia. p. 2.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s