Catatan Perjalanan SBMPTN

“Biar kau tahu, Kal, orang seperti kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu!”

“Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati…”

“Mungkin setelah tamat SMA kita hanya akan mendulang timah atau menjadi kuli, tapi disini Kal, di sekolah ini, kita tak akan pernah mendahului nasib kita!”

Untuk semua teman yang sedang memantaskan diri masuk ke dalam lingkungan Pendidikan Tinggi,

Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya.

Menjadi bagian dari Gadjah Mada merupakan hal yang menakjubkan bagi saya. Saya merupakan seorang pemuda yang lahir di Sidoarjo. Tepatnya berada di selatan Surabaya, terkenal dengan keberadaan tanggul lumpur. Apabila dilihat alur akademik saya, maka dapat dikatakan saya bukanlah orang yang pandai. Seingat saya prestasi terbaik saya dalam perkara ranking adalah posisi 5 besar saat kelas 4 SD. Saya juga bukan orang yang memenangi OSN maupun olimpiade-olimpiade semacamnya. Seingat saya hanya ada dua tipe lomba yang saya ikuti. Pidato bahasa inggris dan nasyid. Pidato bahasa inggris sekali saja waktu itu dan nasyid yang memiliki frekuensi lebih banyak.

Mengapa Gadjah Mada? Bagaimana Agar Bisa Sampai Kesana?

Saat itu yang saya pikir sederhana saja. UGM terkenal dan banyak tokoh lahir disana. Lalu saya berpikir bagaimana caranya agar saya bisa belajar disana. Terdapat 3 jalur yang dapat saya coba. SNMPTN, SBMPTN, dan UTUL. SNMPTN menggunakan kualitas SMA, nilai rapor, sertifikat lomba, dan semacamnya guna indicator penilaiannya. Saya bersekolah di SMA ranking 2 di daerah saya, sangat jarang alumni SMA saya melanjutkan studi ke UGM. Untuk rapor, saya memiliki rata-rata total tidak lebih dari angka 8. Sedangkan lomba sama sekali tidak pernah meraih juara yang bergengsi. Saya pesimis akan di terima lewat jalur ini.

SBMPTN dan UTUL beda lagi. Mereka berdua menggunakan tes tulis sebagai indikator penilaian. Hal ini membahagiakan saya untuk beberapa saat, karena kemungkinan bergabung dengan Gadjah Mada masih terbuka lebar. Tetapi, kebahagiaan itu dengan cepat sirna ketika pertama kali mengikuti try out SBMPTN di suatu institusi. Soal-soal yang ada disana sangat susah! Apalagi saya yang ingin melakukan lintas jalur mengambil paket Soshum. Kapan terjadi Perang Dingin? Bagaimana bias terjadi? Tentu saya yang dahulunya anak IPA kebingungan bagaimana cara memahami ini semua.

Hingga saya memutuskan untuk belajar semuanya dari awal. Apa itu ekonomi? Mengapa Adipati Unus ke Malaka? Kapan Konstituante dibubarkan? Sampai, dimana Soekarno dimakamkan? Saya memulai untuk mempelajari materi yang diujikan pada awal semester 6 SMA. Dengan bantuan dari zenius.net saya habiskan banyak malam saya guna mempelajari Tes Potensi Akademik, Tes Kemampuan Dasar Umum (Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris), serta Tes Kemampuan Dasar Sosial-Humaniora (Geografi, Sosiologi, Ekonomi, Sejarah).

Tahu Diri = Kerja Keras

Baru-baru ini dalam kuliah Dasar-Dasar Pemasaran, dosen saya menjelaskan tentang sebuah generasi. Generasi ini disebut Gen Y atau Millenials. Gen Y merupakan generasi yang gandrung akan gadget. Kecanduan akan media sosial. Memiliki banyak impian, termasuk slogan abad 21 yang berbunyi “follow your passion”. Memiliki ekspektasi yang berlebih akan hidupnya. “Aku akan jadi pengusaha!”. “Aku akan jadi penemu teknologi yang terbaru!”, “Aku akan buat aplikasi yang lebih gokil daripada Bukalapak!”, dan semua ekspektasi luar biasa lainnya. Generasi ini adalah kita. Gen Y adalah kita. Lalu apakah hal itu salah? Tentu tidak teman-teman. Saya pribadi memiliki puluhan cita-cita yang susah dimasukkan ke akal. Memiliki cita-cita diatas tentu sangat baik. Tetapi, ada satu penyakit yang di idap oleh generasi ini.

Berekspektasi tinggi tanpa usaha dan doa yang sepadan. Itulah penyakit akut generasi ini. Sering saya bertanya ke teman saya,

“Apa cita-citamu?”

“Jadi CEO sebuah perusahaan.”

“Apa yang sudah kamu lakukan guna mencapai cita-citamu itu?”

“…”

Kita harus bareng-bareng tahu diri bagaimana impian kita dan seperti apa kita harus berjuang. Bagaimana mau jadi pengusaha, kalau ambil risiko saja tidak pernah? Tolong tahu diri! “Kemampuan mu sudah seperti apa hingga kami pantas menerima mu?” Mungkin ini yang pantas dikatakan PTN kepada calon-calon mahasiswa. Pertanyaan seperti ini pula yang selalu menghilangkan rasa kantuk pada malam-malam saya setahun yang lalu. Seseorang pernah menasihati saya, “Apabila kamu sedang memiliki sebuah hajat, maka berdo’alah lebih khusyu’, bekerjalah lebih keras, belajarlah lebih serius. Berusahalah lebih dari rata-rata orang lain.”

Ingin Segera Paham Materi = Kerja Cerdas

Saat itu saya memiliki waktu sekitar 5 bulan untuk belajar materi SBMPTN Soshum. Materi yang seharusnya diajarkan dalam 3 tahun, terpaksa bagaimana caranya agar dapat dipahami dalam waktu 5 bulan. Hal yang saya lakukan adalah (sesuai nasihat zenius.net):

  1. Kerjain soal SBMPTN tahun lalu
  2. Evaluasi kesiapan
  3. Ngumpulin bahan materi belajar
  4. Buat jadwal belajar
  5. Belajar
  6. Try out sendiri
  7. Evaluasi kelemahan (kembali ke nomor 5 apabila masih ada kelemahan)

“Lo wajib aware sama skills lo dalam kemampuan dasar. Wajib asah yang kurang. Sebaiknya belajar dari akarnya dan bukan asal hafal rumus atau hafal cara ngerjain soal.” Donita, online teacher di zenius.net

Bobot soal SBMPTN berbeda dengan soal UN. Hafalan tidak menjadi hal yang baik saat bertemu dengan soal-soal SBMPTN. Kamu harus bener-bener paham konsepnya bagaimana. Jangan terlalu sering belajar mengerjakan soal. Lebih seringlah belajar materi hingga bener-bener paham konsepnya.

Nasihat-Nasihat Ekstrim

Walaupun mengambil paket Soshum dalam SBMPTN bukan berarti saya mengerjakan soal IPS juga dalam UN. Saya tetap mengerjakan soal-soal IPA. Sepanjang semester 6 saya belajar IPS penuh. Saya membuka kembali buku IPA pada H-3 UN. Saya sengaja melakukan hal ini karena saya berpikir bahwa saya hanya membutuhkan predikat lulus untuk mendaftar SBMPTN (SBMPTN tidak melihat nilai UN ataupun rapor). Mungkinkah seorang siswa yang baik nan biasa-biasa saja serta jarang berbuat nakal tidak lulus? Saya rasa kemungkinannya kecil. Dan syukur Alhamdulillah ketika hasil UN keluar hasilnya tidak buruk-buruk amat.

Kesimpulan

Kalian memiliki cita-cita tinggi, maka tinggikanlah pula do’a dan usaha kalian! Kalian ingin menjadi orang yang prominen, maka lebihkanlah usaha daripada orang rata-rata! Kalian ingin masuk PTN favorit, maka belajarlah mati-matian untuk mendapatkannya!

Yang menunggu kehadiran teman-teman,

Ahmad Najmi R

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s