Manajemen Waktu: Miliki Visi

shutterstock_225924757Selamat datang di ruang kesadaran! Saat ini kamu sedang mencoba keluar dari “dirimu”, menuju ke pojok ruangan, lalu mengamati apa yang sedang “dirimu” lakukan. Saya suka menyebut proses ini sebagai high consciusness. Saya sarankan sebelum kamu melanjutkan membaca tulisan ini datanglah ke ruang kesadaran terlebih dahulu.

Tanyakan pada dirimu beberapa pertanyaan berikut (kalau bisa jawabanmu ditulis diatas kertas ya!). Mengapa kamu melakukan apa yang sedang kamu lakukan? Ingin dikenang sebagai siapa saat kamu meninggal? Bayangkan kamu datang ke suatu upacara pemakaman dan melihat “dirimu” dimakamkan, lalu ada seorang kawan yang memberikan sedikit funeral speech. Ingin disebut sebagai apakah dirimu dalam pidato kawanmu tersebut?

Banyak teman (dan diri saya sendiri) yang saya jumpai masih kebingungan dengan visi hidup nya sendiri. Dia merasa hidupnya gitu-gitu aja. Mengambang tak jelas arahnya. Lalu saya mencoba berpikir dan membaca buku-buku. Apa yang menyebabkan orang memiliki hidup yang lebih bermakna. Dan saya memiliki satu kesimpulan bahwa hidup harus memiliki visi. Mengapa seperti itu? Karena visi akan menentukan pilihan-pilihan apa saja yang akan kita ambil dari kehidupan ini. Mari kita berikan konsep ini sebuah contoh.

Saya memiliki visi untuk membuat perusahaan yang dapat melakukan perubahan sosial. Maka dalam tiap pilihan saya harus berorientasi pada visi saya tersebut. Kegiatan yang saya dalami harus seputar bisnis, ekonomi, dan sosial. Visi ibarat pagar di tepi jalan dalam menuju daerah pegunungan. Visi menjaga kita stay on track. Suatu hari ada dua kegiatan yang bertabrakan dalam jadwal saya. Saat itu saya dihadapkan akan dua pilihan, belajar bersama teman untuk mempersiapkan ujian atau diskusi mengenai isu sosial. Karena saya memiliki visi, maka jelas-lah pilihan saya akan jatuh kemana (ya! Kamu benar, saya memilih berdiskusi isu sosial pada akhirnya.)

Visi merupakan salah satu variabel pokok yang harus kita miliki dan dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan sehari-hari. Sekarang coba lihat lagi jawaban dari pertanyaan diatas. Lalu pikirkan terus menerus, hingga mengganggu tidurmu! Memaksamu untuk mencari jawaban bagaimana mewujudkan “dirimu” yang kau inginkan! Sampai jumpa di tulisan Manajemen Waktu berikutnya!

Iklan

2 pemikiran pada “Manajemen Waktu: Miliki Visi

  1. Kalau misal kamu sudah memiliki visi, kamu ditempatkan di posisi yang sesuai dengan pilihanmu dengan catatan perusahaanmu kurang bonafit, dilain kesempatan kamu bisa mencoba ke perusahaan lain yang bonafit dengan presentase lolos 50%. Tetapi di perusahaan barumu nanti kamu harus memulainya dari nol lagi. Manakah yang kamu pilih?

    Suka

    1. Dear Krnwt, terima kasih telah mampir ke blog saya. Apabila kita coba untuk analisis plus-minus nya. Akan didapatkan seperti ini: (1) Anda pindah perusahaan: (+) perusahaan bonafit (-) mulai dari nol, bisa jadi tidak di posisi yang sesuai. (2) Anda tetap di perusahaan Anda sekarang: (+) posisi sesuai pilihan (-) perusahaan kurang bonafit.

      Sebetulnya jawaban terbaik saya belum tentu menjadi jawaban yang baik bagi Anda. Karena tiap individu memiliki orientasi-nya masing-masing.

      Dengan asumsi saya tidak harus resign dari perusahaan sebelum: Saya akan daftar di perusahaan bonafit, dan apabila saya diterima di posisi yang saya tidak nyaman di dalamnya. Saya tolak dan tetap bekerja di perusahaan sebelum. Vice versa.

      Dengan asumsi harus resign terlebih dahulu: Saya akan tetap di perusahaan sebelum. Karena ada 2 variabel penghalang yang besar bagi kesuksesan saya apabila mencoba mendaftar. (1) chance nya 50% (2) belum tentu di posisi yang pas.

      Sekian semoga membantu! 🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s